Uban dan Alasan Menulis

01.05.00
Sejak SMA, saya memang mulai berasa ada yang tak beres dengan daya ingat saya. Tak jarang, sesekali ketemu teman sekelas waktu di SD, SMP atau SMA, saya berjuang keras mengulang kata tanya di kepala, “Aduh namanya siapa?” Bisa kebayang kan, kalau ada teman seakrab-akrabnya menyapa, terus kita lupa namanya. Meski zaman sekarang banyak sapaan penyelamat seperti, bro, utat, mam, mace, dan sebagainya. Tapi tak bakal lewat beberapa menit setelah saling sapa, teman kita pasti berasa kita lupa namanya.

Bukan Superhero, Hanya Ayah

08.51.00

Bokap 1993
“Bersenang-senanglah dengan apa yang ada hari ini. Besok, nanti dicari,” begitu kata yang pernah terucap dari mulut ayah saya. Kata-kata itu lama mempengaruhi hidup saya. Aneh memang, tapi itulah salah satu prinsip hidup yang belakangan mulai menghilang dari diri saya. Meski tak bisa dipungkiri, kata-kata itu hingga kini sesekali masih berlaku di tiap keputusan hidup yang saya jalani, artinya tak peduli hari esok.

Saya dan Mimosa Café

03.47.00
Waktu itu pertengahan tahun 2012, saya begitu bersemangatnya menggarap usaha kecil, sebuah warung kopi (kafe) di halaman rumah. Senang rasanya bisa punya usaha sendiri sekaligus bisa membuktikan bahwa saya berbakat jadi kuli bangunan. Betapa tidak, hampir sekira 50 persen bangunan kafe merupakan buah karya jari-jari lentik saya (hehehe). Hampir 2 bulan proses pengerjaan, terbilang lama untuk sebuah kafe sederhana berbahan kayu di atas lahan seluas 4x6 meter.

Lupa Alamat Email

Lupa Alamat Email

21.10.00
Berhubung jam sudah pukul 4.52 am dan pantat mulai panas nempel di kursi dari siang tadi, saatnya siap-siap menuju bantal. Sebelum itu, biar insomnia ini segera berlalu, saya perlu menuliskan hal-hal tidak berguna sebagai obatnya.

Wasiat Terakhir

16.24.00


Sore-sore gini, tepatnya saat gue baru bangun "pagi" (Waktu istirahat jam 5 pagi-jam 3 sore), biasanya kerjaan masih nol. E-mail masih kosong belum ada yang masuk buat diedit (berita). Nge-browsing2 bingung gak tau mo liat apa, nonton yutup sama aja. Facebook? Yah itu-itu juga.

Resign Sebagai Dirut Dan Jualan Jahe

Resign Sebagai Dirut Dan Jualan Jahe

11.15.00
1. Kisah ini bermula sejak tahun 2008, saat itu dia memutuskan keluar dari Dirut sebuah BPR

2. Dia sendiri kerja mulai dari tahun 1995, mulai dari account officer sampai akhirnya jadi dirut

3. Katanya dulu gaji dia 7 jt an, gaji segitu kalau dikampung cukup besar tapi gaji besar pengeluaran juga besar

4. Menurut dia, tindakan dia resign itu dianggap tindakan nekat sama teman2nya, beruntung istrinya mendukung *sepasang bidadari*